Rabu, 15 Maret 2017

wireless security

NAMA                     :DEVI WIYENTI
NIM                         :141420070
PROGRAM STUDI:TEKNIK INFORMATIKA
NAMA DOSEN      :SURYAYUSRA, M.Kom
WEBSITE               :www.binadarma.ac.id
TUGAS                   : 2 KEAMANAN JARINGAN

1. DEFINISI KOMUNIKASI WIRELESS

Komunikasi Wireless adalah transfer informasi jarak jauh tanpa menggunakan konduktor listrik ditingkatkan atau “kawat” Jarak yang terlibat mungkin pendek. Beberapa meter seperti di televisi remote control atau panjang ribuan atau jutaan kilometer untuk radio komunikasi. Ketika konteksnya jelas, istilah ini sering disingkat menjadi “nirkabel”. Wireless komunikasi umumnya dianggap sebagai cabang telekomunikasi. Ini mencakup berbagai jenis radio dua arah tetap, mobile, dan portabel, telepon selular, asisten pribadi digital (PDA), dan jaringan nirkabel. Contoh lain dari teknologi nirkabel termasuk unit GPS, pembuka pintu garasi dan atau pintu garasi, tikus komputer nirkabel, keyboard dan headset, televisi satelit dan telepon tanpa kabel.

2. DEFINISI KEAMANAN WIRELES

Jaringan Wifi memiliki lebih banyak kelemahan dibanding dengan jaringan kabel. Saat ini perkembangan teknologi wifi sangat signifikan sejalan dengan kebutuhan sistem informasi yang mobile. Banyak penyedia jasa wireless seperti hotspot komersil, ISP, Warnet, kampus – kampus maupun perkantoran sudah mulai memanfaatkan wifi pada jaringan masing masing, tetapi sangat sedikit yang memperhatikan keamanan komunikasi data pada jaringan wireless tersebut. Hal ini membuat para hacker menjadi tertarik untuk mengexplore keamampuannya untuk melakukan berbagai aktifitas yang biasanya illegal menggunakan wifi.

Wardriving adalah kegiatan atau aktivitas untuk mendapatkan informasi tentang suatu jaringan wifi dan mendapatkan akses terhadap jaringan wireless tersebut. Umumnya bertujuan untuk mendapatkan koneksi internet, tetapi banyak juga yang melakukan untuk bermaksud tertentu mulai dari rasa keingin tahuan, kejahatan dan lain lain.

Kelemahan jaringan wireless secara umum dapat dibagi menjadi 2 jenis, yakni kelemahan pada konfigurasi dan kelemahan pada jenis enkripsi yang digunakan. Salah satu contoh penyebab kelemahan pada konfigurasi karena saat ini untuk membangun sebuah jaringan wireless cukup mudah. Banyak vendor yang menyediakan fasilitas yang memudahkan pengguna atau admin jaringan sehingga sering ditemukan wireless yang masih menggunakan konfigurasi wireless default bawaan vendor. Penulis sering menemukan wireless yang dipasang pada jaringan masih menggunakan setting default bawaan vendor seperti SSID, IP Address , remote manajemen, DHCP enable, kanal frekuensi, tanpa enkripsi bahkan user/password untuk administrasi wireless tersebut.

WEP (Wired Equivalent Privacy) yang menjadi standart keamanan wireless sebelumnya, saat ini dapat dengan mudah dipecahkan dengan berbagai tools yang tersedia gratis di internet. WPAPSK dan LEAP yang dianggap menjadi solusi menggantikan WEP, saat ini juga sudah dapat dipecahkan dengan metode dictionary attack secara offline.

Kelemahan Wireless pada Lapisan Fisik Wifi menggunakan gelombang radio pada frekwensi milik umum yang bersifat bebas digunakan oleh semua kalangan dengan batasan batasan tertentu. Setiap wifi memiliki area jangkauan tertentu tergantung power dan antenna yang digunakan. Tidak mudah melakukan pembatasan area yang dijangkau pada wifi. Hal ini menyebabkan berbagai dimungkinan terjadi aktifitas aktifitas antara lain:

1. Interception atau penyadapan

Hal ini sangat mudah dilakukan, dan sudah tidak asing lagi bagi para hacker. Berbagai tools dengan mudah di peroleh di internet. Berbagai teknik kriptografi dapat di bongkar oleh tools tools tersebut.

2. Injection

Pada saat transmisi melalui radio, dimungkinkan dilakukan injection karena berbagai kelemahan pada cara kerja wifi dimana tidak ada proses validasi siapa yang sedang terhubung atau siapa yang memutuskan koneksi saat itu.

3. Jamming

Jamming sangat dimungkinkan terjadi, baik disengaja maupun tidak disengaja karena ketidaktahuan pengguna wireless tersebut. Pengaturan penggunaan kanal frekwensi merupakan keharusan agar jamming dapat di minimalisir. Jamming terjadi karena frekwensi yang digunakan cukup sempit sehingga penggunaan kembali channel sulit dilakukan pada area yang padat jaringan nirkabelnya.

4. Locating Mobile Nodes

Dengan berbagai software, setiap orang mampu melakukan wireless site survey dan mendapatkan informasi posisi letak setiap Wifi dan beragam konfigurasi masing masing. Hal ini dapat dilakukan dengan peralatan sederhana spt PDA atau laptop dengan di dukung GPS sebagai penanda posisi.

5. Access Control

Dalam membangun jaringan wireless perlu di design agar dapat memisahkan node atau host yang dapat dipercaya dan host yang tidak dapat dipercaya. Sehingga diperlukan access control yang baik

6. Hijacking

Serangan MITM (Man In The Middle) yang dapat terjadi pada wireless karena berbagai kelemahan protokol tersebut sehingga memungkinkan terjadinya hijacking atau pengambilalihan komunikasi yang sedang terjadi dan melakukan pencurian atau modifikasi informasi.

Kelemahan pada Lapisan MAC (Data Layer) Pada lapisan ini terdapat kelemahan yakni jika sudah terlalu banyak node (client) yang menggunakan channel yang sama dan terhubung pada AP yang sama, maka bandwidth yang mampu dilewatkan akan menurun. Selain itu MAC address sangat mudah di spoofing (ditiru atau di duplikasi) membuat banyak permasalahan keamanan. Lapisan data atau MAC juga digunakan dalam otentikasi dalam implementasi keamanan wifi berbasis WPA Radius (802.1x plus TKIP/AES).

3.JELASKAN DAN CONTOHKAN KOMUNIKASI WEP

WEP (Wired Equivalent Privacy) atau biasa disebut Shared Key adalah suatu metoda pengamanan jaringan nirkabel, disebut juga dengan Shared Key Authentication. Shared Key Authentication adalah metoda otentikasi yang membutuhkan penggunaan WEP. Enkripsi WEP menggunakan kunci yang dimasukkan (oleh administrator) ke client maupun access point. Kunci ini harus cocok dari yang diberikan akses point ke client, dengan yang dimasukkan client untuk autentikasi menuju access point.

Proses Shared Key Authentication:

client meminta asosiasi ke access point, langkah ini sama seperti Open System Authentication.
access point mengirimkan text challenge ke client secara transparan.
client akan memberikan respon dengan mengenkripsi text challenge dengan menggunakan kunci WEP dan mengirimkan kembali ke access point.

access point memberi respon atas tanggapan client, akses point akan melakukan decrypt terhadap respon enkripsi dari client untuk melakukan verifikasi bahwa text challenge dienkripsi dengan menggunakan WEP key yang sesuai. Pada proses ini, access point akan menentukan apakah client sudah memberikan kunci WEP yang sesuai. Apabila kunci WEP yang diberikan oleh client sudah benar, maka access point akan merespon positif dan langsung meng-authentikasi client. Namun bila kunci WEP yang dimasukkan client salah, access point akan merespon negatif dan client tidak akan diberi authentikasi. Dengan demikian, client tidak akan terauthentikasi dan tidak terasosiasi.

Menurut Arief ZHamdani Gunawan, Komunikasi Data via IEEE 802.11, Shared Key Authentication kelihatannya lebih aman dari dari pada Open System Authentication, namun pada kenyataannya tidak. Shared Key malah membuka pintu bagi penyusup atau cracker. Penting untuk dimengerti dua jalan yang digunakan oleh WEP. WEP bisa digunakan untuk memverifikasi identitas client selama proses shared key dari authentikasi, tapi juga bisa digunakan untuk men-dekripsi data yang dikirimkan oleh client melalui access point.

4.JELASKAN DAN CONTOHKAN KOMUNIKASI WPA

WPA (Wi-Fi Protected Access) adalah suatu sistem yang juga dapat diterapkan untuk mengamankan jaringan nirkabel. Metoda pengamanan dengan WPA ini diciptakan untuk melengkapi dari sistem yamg sebelumnya, yaitu WEP. Para peneliti menemukan banyak celah dan kelemahan pada infrastruktur nirkabel yang menggunakan metoda pengamanan WEP. Sebagai pengganti dari sistem WEP, WPA mengimplementasikan layer dari IEEE, yaitu layer 802.11i. Nantinya WPA akan lebih banyak digunakan pada implementasi keamanan jaringan nirkabel. WPA didesain dan digunakan dengan alat tambahan lainnya, yaitu sebuah komputer pribadi (PC).

Fungsi dari komputer pribadi ini kemudian dikenal dengan istilah authentication server, yang memberikan key yang berbeda kepada masing–masing pengguna/client dari suatu jaringan nirkabel yang menggunakan akses point sebagai media sentral komunikasi. Seperti dengan jaringan WEP, metoda enkripsi dari WPA ini juga menggunakan algoritma RC4.

Pengamanan jaringan nirkabel dengan metoda WPA ini, dapat ditandai dengan minimal ada tiga pilihan yang harus diisi administrator jaringan agar jaringan dapat beroperasi pada mode WPA ini. Ketiga menu yang harus diisi tersebut adalah:

1. Server
Komputer server yang dituju oleh akses point yang akan memberi otontikasi kepada client. beberapa perangkat lunak yang biasa digunakan antara lain freeRADIUS, openRADIUS dan lain-lain.

2. Port
Nomor port yang digunakan adalah 1812.

3.Shared Secret
Shared Secret adalah kunci yang akan dibagikan ke komputer dan juga kepada client secara transparant.

Setelah komputer diinstall perangkat lunak autentikasi seperti freeRADIUS, maka sertifikat yang dari server akan dibagikan kepada client.

Untuk menggunakan Radius server bisa juga dengan tanpa menginstall perangkat lunak di sisi komputer client. Cara yang di gunakan adalah Web Authentication dimana User akan diarahkan ke halaman Login terlebih dahulu sebelum bisa menggunakan Jaringan Wireless. Dan Server yang menangani autentikasi adalah Radius server.

5.JELASKAN DAN CONTOHKAN KOMUNIKASI RADIUS 802.1X

RADIUS atau Remote Authentication Dial-In User Service merupakan sebuah protokol yang memungkinkan Keamanan jaringan wireless untuk melakukan authentication (pembuktian keaslian), authorize (otoritas/pemberian hak) dan accounting (akutansi) (AAA) untuk meremote para pengguna atau user yang ingin mengakses suatu sistem atau layanan dari pusat server jaringan komputer.

RADIUS menjalankan sistem administrasi pengguna yang terpusat, sistem ini akan mempermudah tugas administrator. Dapat kita bayangkan berapa banyak jumlah pelanggan yang dimiliki oleh sebuah ISP, dan ditambah lagi dengan penambahan pelanggan baru dan penghapusan pelanggan yang sudah tidak berlangganan lagi. Apabila tidak ada suatu sistem administrasi yang terpusat, maka akan merepotkan administrator dan tidak menutup kemungkinan ISP akan merugi atau pendapatannya berkurang. Dengan sistem ini pengguna dapat menggunakan hotspot di tempat yang berbeda-beda dengan melakukan autentikasi ke sebuah RADIUS server.

Tujuan standar 802.1x IEEE adalah untuk menghasilkan kontrol akses, autentikasi, dan manajemen kunci untuk wireless LAN. Standar ini berdasarkan pada Internet Engineering Task Force (IETF) Extensible Authentication Protocol (EAP), yang ditetapkan dalam RFC 2284. Standar 802.1x IEEE juga mendukung beberapa metode autentikasi, seperti smart cards, password yang hanya bisa digunakan oleh satu pengguna pada satu waktu

802.1x terdiri dari tiga bagian, yaitu wireless node (supplicant), access point (autentikator), autentikasi server. Autentikasi server yang digunakan adalah Remote Authentication Dial-In Service (RADIUS) server dan digunakan untuk autentikasi pengguna yang akan mengakses wireless LAN. EAP adalah protokol layer 2 yang menggantikan Password Authentication Protocol (PAP).

Rabu, 08 Maret 2017

DEFINISI FIREWALL

NAMA                   :DEVI WIYENTI
NIM                       :141420070
KELAS                  :IF6A
PROGRAM STUDI:INFORMATIKA
NAMA DOSEN      :SURYAYUSRA, M.Kom
WEBSITE              :www.binadarma.ac.id
TUGAS                  : 1 KEAMANAN JARINGAN

DEFINISI FIREWALL


Definisi firewall
Pengertian Firewall adalah sistem keamanan jaringan komputer yang digunakan untuk melindungi komputer dari beberapa jenis serangan dari komputer luar. sebuah perangkat yang di letakan antara internet dengan jaringan internet.

Secara umum Firewall digunakan untuk mengontrol akses terhadap siapapun yang memiliki akses terhadap jaringan privat dari pihak luar. Saat ini, pengertian firewall difahami dengan istilah generik yang merujuk pada fungsi firewall sebagai sistem pengatur komunikasi antar dua jaringan yang berlainan. Mengingat sekarang ini banyak perusahaan yang memiliki akses ke Internet maka perlindungan terhadap aset digital perusahaan tersebut dari serangan para hacker, pelaku spionase, ataupun pencuri data lainnya, sehingga fungsi fire-wall menjadi hal yang sangat esensial.”

JENIS-JENIS FIREWALL
Packet filtering layer gateway
Berfungsi Sebagai firewall yang bertugas melakukan filtrasi (penyaringan) terhadap paket yang datang dari luar jaringan untuk melindungi jaringan tersebut.

Application layer gateway
Firewall jenis ini akan melakukan penyaringan pada layar aplikasi.Mekanismenya tidak hanya berdasarkan sumber,tujuan,dan atribut paket,tapi bisa mecapai content paket tersebut.

Circuit layer gateway
Firewall ini berjalan pada lapisan transport dari model referensi TCP/IP.Dan akan mengawasi antara hubungan awal TCP (sebagai tcp handshaking)

Statefull multi layer inspection gateway
Dan yang terakhir,dengan penggabungan ketiga model firewall yaitu paket filtering,Application,Circuit,Statefull  multi layer gateway maka akan memberikan keamanan dengan tingkat yang paling tinggi di bandingkan dengan jenis paket yang lain.

TOPOLO0GI FIREWALL

Hasil gambar untuk topologi firewall

Hasil gambar untuk topologi firewall

PEBEDAAN FIREWALL NETWORK DAN APPLICATION
NETWORK yaitu mendapatkan keputusan pada alamat sumber, alamat tujuandan port yang terdapat dalam setiap paket Ip.

APPLICATION host yang berjalan sebagai proxy server, yang tidak mengijinkan lalu lintas antar jaringan dan melakukan logging dan auditing lalulintas yang melaluinya

PROXY SQUID DAN IPTABLES
SQUID adalah software publik domain berbasis UNIX. fungsi dari squid adalah meng-‘cache’ atau menyimpan data yang diminta oleh pengguna (komputer client) biasanya berupa web pages dan FTP. Platform UNIX yang di support oleh Squid adalah FreeBSD, BSDI, Digital Unix, Irix, Linux, Solaris dan SunOs. Tidak semua data bisa di cache oleh Squid, data-data yang bersifat dinamik seperti CGI-BIN tidak di cache oleh Squid, jadi tiap kali ada permintaan CGI-BIN, maka Squid akan menghubungi langsung server tujuan. Saat ini protokol yang bisa dilayani oleh Squid adalah HTTP, FTP, Gopher, dan Wais.


IPTABLES adalah suatu tools dalam sistem operasi linux yang berfungsi sebagai alat untuk melakukan filter (penyaringan) terhadap (trafic) lalulintas data. Secara sederhana digambarkan sebagai pengatur lalulintas data. Dengan iptables inilah kita akan mengatur semua lalulintas dalam komputer kita, baik yang masuk ke komputer, keluar dari komputer, ataupun traffic yang sekedar melewati komputer kita. Command, command dan rule yang dipasang pada iptables (firewall) memiliki ketentuan. Pada dasarnya iptables pada komputer dianggap sebagai TABEL IP sesuai dengan namanya. System hanya akan menjalan rule yang ada pada tabel. Sedangkan rule yang sudah ada pada iptables juga dapat di hapus atau di replace dengan rule lain. Berikut beberapa command untuk penambahan, penghapusan dan operasi sejenisnya yang akan diperlakukan terhadap rule.

Jumat, 01 April 2016

Configuring Multiarea OSPFv3 6.2.3.7

RA>ena
RA#conf t
RA#conf terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
RA(config)#hostname deviwi
deviwi(config)#ipv6 unicast-routing
deviwi(config)#ipv6 roter ospf 1
                      ^
% Invalid input detected at '^' marker.
   
deviwi(config)#ipv6 router ospf 1
%OSPFv3-4-NORTRID: OSPFv3 process 1 could not pick a router-id,please configure manually
deviwi(config-rtr)#router-id 1.1.1.1
deviwi(config-rtr)#ex
deviwi(config)#int gig
deviwi(config)#int gigabitEthernet 0/0
deviwi(config-if)#ipv6 ospf 1 area 1
deviwi(config-if)#ex
deviwi(config)#int gigabitEthernet 0/1
deviwi(config-if)#ipv6 ospf 1 area 1
deviwi(config-if)#ex
deviwi(config)#int serial 0/0/0
deviwi(config-if)#ipv6 ospf 1 area 0
00:06:18: %OSPFv3-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 11.11.11.11 on GigabitEthernet0/0 from LOADING to FULL, Loading Done

deviwi(config-if)#ex
deviwi(config)#
00:06:38: %OSPFv3-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 12.12.12.12 on GigabitEthernet0/1 from LOADING to FULL, Loading Done


RB>ena
RB>enable

RB#conf t
RB#conf terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
RB(config)#hostname deviwiy
deviwiy(config)#ipv6 unicast-routing
deviwiy(config)#ipv6 router ospf 1
%OSPFv3-4-NORTRID: OSPFv3 process 1 could not pick a router-id,please configure manually
deviwiy(config-rtr)#router-id 2.2.2.2
deviwiy(config-rtr)#ex
deviwiy(config)#int gi
deviwiy(config)#int gigabitEthernet 0/0
deviwiy(config-if)#ipv6 ospf 1 area 0
deviwiy(config-if)#ex
deviwiy(config)#int serial 0/0/0
deviwiy(config-if)#ipv6 ospf 1 area 0
deviwiy(config-if)#e
00:09:18: %OSPFv3-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 1.1.1.1 on Serial0/0/0 from LOADING to FULL, Loading Done

% Ambiguous command: "e"
deviwiy(config-if)#ex
deviwiy(config)#int serial 0
00:09:38: %OSPFv3-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 21.21.21.21 on GigabitEthernet0/0 from LOADING to FULL, Loading Done
/0/1
deviwiy(config-if)#int serial 0/0/1
deviwiy(config-if)#ipv6 ospf 1 area 0
deviwiy(config-if)#ex
deviwiy(config)#


inhos

RC>ena
RC#conf t
RC#conf terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
RC(config)#hostname deviwiyen
deviwiyen(config)#ipv6 unicast-routing
deviwiyen(config)#ipv6 router ospf 1
%OSPFv3-4-NORTRID: OSPFv3 process 1 could not pick a router-id,please configure manually
deviwiyen(config-rtr)#router-id 3.3.3.3
deviwiyen(config-rtr)#ex
deviwiyen(config)#int gi
deviwiyen(config)#int gigabitEthernet 0/0
deviwiyen(config-if)#ipv6 ospf 1 area 2
deviwiyen(config-if)#ex
deviwiyen(config)#int gigabitEthernet 0/1
deviwiyen(config-if)#ipv6 ospf 1 area 2
deviwiyen(config-if)#ex
deviwiyen(config)#int serial 0/0/1
deviwiyen(config-if)#
00:13:13: %OSPFv3-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 31.31.31.31 on GigabitEthernet0/0 from LOADING to FULL, Loading Done

deviwiyen(config-if)#ipv6 ospf 1 area 0
deviwiyen(config-if)#
00:13:30: %OSPFv3-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 2.2.2.2 on Serial0/0/1 from LOADING to FULL, Loading Done

deviwiyen(config-if)#
00:13:32: %OSPFv3-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 32.32.32.32 on GigabitEthernet0/1 from LOADING to FULL, Loading Done
ex
deviwiyen(config)#

Configuring Multiarea OSPFv2 PKA 6.2.3.6



Configuring Multiarea OSPFv2 PKA 6.2.3.6

R1>ena
R1>enable
R1#con t
R1#conf t
R1#conf terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R1(config)#hostname devi
devi(config)#router ospf 1
devi(config-router)#r
devi(config-router)#ro
devi(config-router)#router-id 1.1.1.1
devi(config-router)#net
devi(config-router)#network 10.1.1.0 0.0.0.255 area 1
devi(config-router)#network 10.1.
00:02:54: %OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 9.9.9.9 on GigabitEthernet0/0 from LOADING to FULL, Loading Done
2.
                            ^
% Invalid input detected at '^' marker.
         
devi(config-router)#network 10.1.2.0 0.0.0.255 area 1
devi(config-router)#network 192.168.10
00:03:23: %OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 5.5.5.5 on GigabitEthernet0/1 from LOADING to FULL, Loading Done
.0
% Incomplete command.
devi(config-router)#network 192.168.10.0 0.0.0.3 area 0
devi(config-router)#
00:06:09: %OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 2.2.2.2 on Serial0/0/0 from LOADING to FULL, Loading Done

devi#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console


R2>ena
R2>enable
R2#conf t
R2#conf terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R2(config)#hostname devi2
devi2(config)#router ospf 1
devi2(config-router)#rou
devi2(config-router)#router-id 2.2.2.2
devi2(config-router)#network 10.2.1.1 0.0.0.255 area 0
devi2(config-router)#network 192.1 0.0.0.255 area 0
00:05:24: %OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 4.4.4.4 on GigabitEthernet0/0 from LOADING to FULL, Loading Done
68
                             ^
% Invalid input detected at '^' marker.
         
devi2(config-router)#network 192.168.10.1 0.0.0.0 area 0
devi2(config-router)#network 192.168.10.1 0.0.0.0 area 0
00:06:09: %OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 1.1.1.1 on Serial0/0/0 from LOADING to FULL, Loading Done

devi2(config-router)#network 192.168.10.5 0.0.0.0 area 0
devi2(config-router)#
00:08:30: %OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 3.3.3.3 on Serial0/0/1 from LOADING to FULL, Loading Done

devi2(config-router)#network 192.168.10.1 0.0.0.3 area 0
devi2(config-router)#network 192.168.10.5 0.0.0.3 area 0
devi2(config-router)#
devi2#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console


R3>ena
R3>enable
R3#conf t
R3#conf terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
R3(config)#hostname devi
devi3(config)#router ospf 1
devi3(config-router)#ro
devi3(config-router)#router-id 3.3.3.3
devi3(config-router)#network 192.168.2.0 0.0.0.255 area 2
devi3(config-router)#network 192.168.2. 0.0.0.255 area 2
00:07:35: %OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 6.6.6.6 on GigabitEthernet0/0 from LOADING to FULL, Loading Done

                         ^
% Invalid input detected at '^' marker.
         
devi3(config-router)#network 192.168.1.0 0.0.0.255 area 2
devi3(config-router)#
00:07:55: %OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 7.7.7.7 on GigabitEthernet0/1 from LOADING to FULL, Loading Done

devi3(config-router)#network 192.168.10.6 0.0.0.3 area 0
devi3(config-router)#
00:08:30: %OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 2.2.2.2 on Serial0/0/1 from LOADING to FULL, Loading Done

Minggu, 28 Februari 2016

perbaikan dari postingan di bawah ya guys

CONFIGURING ETHERCHANNEL

TOPOLOGI

PC-A
PC-B
 PC-C

ROUTING SWITCH 1
Switch>ena
Switch#conf  t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Switch(config)#hostname Devi1
Devi1(config)#interface range f0/3-4
Devi1(config-if-range)#channel-group 1 mode desrible
Devi1(config-if-range)#no shut
Devi1#show interface f0/3 switchport
Devi1#show  etherchannel  summary
Devi1#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Devi1(config)#interface port-channel 1
Devi1(config-if)#switchport mode trunk
Devi1(config-if)# switchport trunk native vlan 99
Devi1(config-if)#ex
Devi1(config-if)#interface range f0/1-2
Devi1(config-if-range)#switchport mode trunk
Devi1(config-if-range)#switchport trunk native vlan 99
Devi1(config-if-range)#channel-group 2 mode active
Devi1(config-if-range)#no shut




ROUTING SWITCH 2
Switch>ena
Switch#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Switch(config)#hostname Devi2
Devi2(config)#interface range f0/1-2
Devi2(config-if-range)#switchport mode trunk
Devi2(config-if-range)#switchport trunk native vlan 99
Devi2(config-if-range)#channel-group 2mode passive
Devi2(config-if-range)#no shut
Devi2(config-if-range)#ex
Devi2(config)#interface range f0/3-4
Devi2(config-if-range)# switchport mode trunk
Devi2(config-if-range)# switchpor  trunk native vlan 99
Devi2(config-if-range)#channel-group 3 mode active
Devi2(config-if-range)#no shut

ROUTINGSWITCH 3
Switch>ena
Switch#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Switch(config)#hostname Devi3
Devi3(config)#interface range f0/3-4
Devi3(config-if-range)#channel-group 1 mode auto
Devi3(config-if-range)#no shut
Devi3(config-if-range)#ex
Devi3(config)#interface port-channel 1
Devi3(config-if)#switchport mode trunk
Devi3(config-if)#switchport trunk native vlan 99
Devi3(config)#interface range f0/1-2
Devi3(config-if-range)#switch mode trunk
Devi3(config-if-range)#switch trunk native vlan 99
Devi3(config-if-range)#channel-group 3 mode passive
Devi3(config-if-range)#no shut


HASIL KIRIM PESAN




 HASIL PING PC-C KE PC -A DAN PC-B


 HASIL PING PC-A KE PC-C


SELAMAT MENCOBA....!!!!



CONFIGURING ETHERCHANNEL

CONFIGURING ETHERCHANNEL

TOPOLOGI

IP ADDRESS PC-A

IP ADDRES PC-B


IP ADDRESS PC-C

ROUTING SWITCH 1





ROUTING SWITCH 2


ROUTING SWITCH 3




HASIL KIRIM PESAN


HASIL PING PC-C KE PC-A DAN PC-B


KONFIGURING PVST+ PKA 2.3.1.5

KONFIGURING PVST+


PC1








PC2

PC3








ADDRESSING TABLE AND SWITCH PORT ASSIGNMENT SPECIFICATIONS


ROUTING SWITCH 1
S1>enable
S1#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
S1(config)#hostname S1
DEVI1(config)#int f0/6
DEVI1(config-if)#switchport mode access
DEVI1(config-if)#no shutdown
DEVI1(config-if)#vlan 10
DEVI1(config-vlan)#vlan 20
DEVI1(config-vlan)#vlan 30
DEVI1(config-vlan)#vlan 40
DEVI1(config-vlan)#vlan 50   
DEVI1(config-vlan)#vlan 60
DEVI1(config-vlan)#vlan 70
DEVI1(config-vlan)#vlan 80
DEVI1(config-vlan)#vlan 99
DEVI1(config-vlan)#exit
DEVI1(config)#int f0/6
DEVI1(config-if)#switchport access vlan 30
DEVI1(config-if)#end
DEVI1#configure terminal
DEVI1(config)#int range f0/1-4
DEVI1(config-if-range)#switchport mode trunk
DEVI1(config-if-range)#switchport trunk native vlan 99
DEVI1(config-if-range)#exit 
DEVI1(config)#int vlan 99
DEVI1(config-if)#ip address 172.31.99.1 255.255.255.0
DEVI1(config-if)#end
DEVI1#conf t
DEVI1(config)#spanning-tree mode pvst 
DEVI1(config)#spanning-tree vlan 1,10,30,50,70 root primary 
DEVI1(config)#end
DEVI1#show spanning-tree
DEVI1(config)#int f0/6
DEVI1(config-if)#spanning-tree portfast
DEVI1(config-if)#ex
DEVI1(config)#int f0/6
DEVI1(config-if)#spanning-tree bpduguard enable
DEVI1(config-if)#end
DEVI1#show running config


ROUTING SWITCH 2
S2>enable
S2#configure terminal
S2(config)#hostname S2
DEVI2(config)#int f0/18
DEVI2(config-if)#switchport mode access 
DEVI2(config-if)#no shutdown 
DEVI2(config-if)#vlan 10
DEVI2(config-vlan)#vlan 20
DEVI2(config-vlan)#vlan 30
DEVI2(config-vlan)#vlan 40
DEVI2(config-vlan)#vlan 50
DEVI2(config-vlan)#vlan 60
DEVI2(config-vlan)#vlan 70
DEVI2(config-vlan)#vlan 80
DEVI2(config-vlan)#vlan 99
DEVI2(config-vlan)#exit
DEVI2(config)#int f0/18
DEVI2(config-if)#switchport access vlan 20
DEVI2(config-if)#end
DEVI2#conf t
DEVI2(config)#int range f0/1-4
DEVI2(config-if-range)#switchport mode trunk
DEVI2(config-if-range)#switchport trunk native vlan 99
DEVI2(config-if-range)#exit
DEVI2(config)#int vlan 99
DEVI2(config-if)#ip add 172.31.99.2 255.255.255.0
DEVI2(config-if)#end
DEVI2#conf t
DEVI2(config)#spanning-tree mode pvst 
DEVI2(config)#spanning-tree vlan 1,10,20,30,40,50,60,70,80,99 root secondary
DEVI2(config)#int f0/18
DEVI2(config-if)#spanning-tree portfast
DEVI2(config)#int f0/18
DEVI2(config-if)#spanning-tree bpduguard enable 
DEVI2(config-if)#end
ROUTING SWITCH 3
S3>enable
S3#configure terminal
S3(config)#hostname S3
DEVI3(config)#int f0/11
DEVI3(config-if)#switchport mode access
DEVI3(config-if)#exit
DEVI3(config)#vlan 10
DEVI3(config-vlan)#vlan 20
DEVI3(config-vlan)#vlan 30
DEVI3(config-vlan)#vlan 40
DEVI3(config-vlan)#vlan 50
DEVI3(config-vlan)#vlan 60
DEVI3(config-vlan)#vlan 70
DEVI3(config-vlan)#vlan 80
DEVI3(config-vlan)#vlan 99
DEVI3(config-vlan)#exit
DEVI3(config)#int f0/11
DEVI3(config-if)#switchport mode access
DEVI3(config-if)#no shutdown  
DEVI3(config-if)#exit
DEVI3(config)#int f0/11
DEVI3(config-if)#switchport access vlan 10
DEVI3(config-if)#end
DEVI3#configure terminal
DEVI3(config)#int range f0/1-4
DEVI3(config-if-range)#switchport mode trunk 
DEVI3(config-if-range)#switchport trunk native vlan 99
DEVI3(config)#exit
DEVI3(config)#int vlan 99
DEVI3(config-if)#ip add 172.31.99.3 255.255.255.0
DEVI3(config-if)#end
DEVI3(config)#spanning-tree mode pvst
DEVI3(config)#spanning-tree vlan 20,40,60,80,99 root primary 
DEVI3#configure terminal
DEVI3(config)#int f0/11
DEVI3(config-if)#spanning-tree portfast
DEVI3(config-if)#exit
DEVI3(config)#int f0/11
DEVI3(config-if)#spanning-tree bpduguard enable
DEVI3(config-if)#no shutdown
DEVI3(config-if)#exit